Chapter 2 : Past and she...
I will kill you…
If I meet you again….
--------------------------------------------------------
[Snowy room]
“ngh…” Snowy merengangkan otot – otot badannya dan bangkit dari tidurnya. “masih jam segini” gumamnya sambil melihat jam beker yang berada digenggamannya, jam menunjukkan pukul 06.30 pagi. Snowy bangkit dari tempat tidurnya dan mulai melakukan kegiatan yang biasa dia lakukan setiap bangun dari tidur. Dia berjalan ke beranda kamarnya, “pagi yang mendung kelihatannya akan hujan” kata Snowy pada dirinya sendiri. Dia merogoh kantong bajunya dan menggeluarkan sebuah foto…foto adik kembarnya, satu – satunya keluarga yang dia miliki. Orang tuanya sudah meninggal sejak dia berumur 3 tahun akibat sebuah “insiden” di tempat mereka bekerja. Dia mulai melamun sambil melihat foto adiknya tersebut.
Tiba – tiba seseorang memegang pundaknya dari belakang “Snow..” “gyaa!” teriak Snowy kaget. Dia langsung menoleh kebelakang “oh...Noir ternyata, ku kira setan” canda Snowy. “hahaha aku sudah memanggilmu dari tadi tapi kau tidak membuka pintu, jadi aku masuk saja, lagian pintunya tidak terkunci” jelas Noir. Snowy menggaruk – garuk kepalanya sambil tersenyum “maaf. Ada apa kau kemari?”. “tidak apa – apa, Cuma mau mengucapkan salam ke anggota baru. Siapa itu?” Noir menunjuk foto yang sedang dipegang Snowy. “oh, ini adik kembarku. Adikku satu – satunya tapi dia sudah meninggal…dibunuh” Jawab Snowy sambil tersenyum sedih. “oh” kata Noir yang tidak ingin membuat Snowy mengingat kenangan buruknya.
Snowy melangkah masuk ke kamarnya, lalu membalik badannya kea rah Noir “ayo masuk, akan kubuat kan teh” ajak Snowy. Noir hanya mengangkat bahunya dan mengikuti perkataan Snowy
Snowy menuangkan teh ke cangkir dan memberikannya ke Noir, Noir hanya memandang teh yang berada di dalam cangkir yang diberikan Snowy. Mereka hanya duduk sambil menikmati teh masing – masing tanpa berkata apa pun. Snowy yang tidak suka dengan kesunyian pun mulai membuka mulutnya “orang tua ku sudah meninggal sejak aku berumur 3 tahun” Noir hanya memandang Snowy dengan alis terangkat sebelah. Snowy pun melanjutkan perkataannya “mereka meninggal dalam sebuah “insiden”, aku tidak tahu apa itu” kata Snowy sambil mengangkat bahunya, Noir hanya diam saja. “lalu, aku dan adikku dititipkan di panti asuhan, panti asuhan yang kecil, tapi aku sangat suka, karena semua orang yang berada disana sangat ramah. Aku sangat senang bisa tinggal disana, tempatnya begitu damai, semua orang yang berada di panti asuhan itu sudah ku anggap sebagai keluarga ku sendiri” Noir tetap diam tidak berkata apa – apa
“tapi….”. “tapi apa?” akhirnya Noir membuka mulutnya, Snowy mengangkat wajahnya dan melihat kearah Noir. “mereka semua dibunuh…termasuk adikku, Cuma aku yang selamat” Noir kaget mendengarnya tapi dia tidak berkata – kata apa lagi, dia menunggu Snowy melanjutkan ceritanya. “4 tahun yang lalu, saat itu aku pergi keluar sebentar, adikku ku tinggal dipanti asuhan, aku menyesal tidak membawanya bersama ku, andai saja waktu itu aku membawa nya, mungkin dia masih hidup dan masih bersama ku sampai sekarang. Ketika aku kembali ke panti, yang ku lihat hanya penghuni panti yang tidak bernyawa dan berlumuran darah. Mereka semua dibunuh oleh seseorang..” Snowy menundukkan kepalanya lagi dan mengenggam cangkir yang ditangannya dengan kuat. “oleh siapa? Kau tahu siapa pembunuhnya?” Snowy masih menundukkan kepala nya dan mengangguk “aku melihatnya hanya sekilas, tapi bayangannya masih berbekas diingatan ku. Pembunuhnya wanita, berambut putih seperti salju dan memiliki sepasang bola mata yang berwarna sama seperti rambutku” Noir hanya kaget mendengar nya. “aku tidak tahu kenapa dia juga tidak membunuhku. Padahal dia melihatku, dia hanya tersenyum lebar kepada ku.” Snowy mengangkat wajahnya “itu saja yang kuingat, setelah itu aku jatuh pingsan, begitu tersadar aku sudah berada dirumah warga sekitar” “aku tidak ingat apa – apa setelah itu” sambung Snowy karena Noir tetap bungkam.
Noir menyipitkan matanya, keningnya mengerut, dia kelihatannya sedang berpikir. “kau sedang memikirkan apa?” Tanya Snowy heran. “ah, tidak, bukan apa – apa. Lalu, apakah kau dendam dengan wanita itu? Dia kan membunuh adikmu”. Snowy diam sejenak lalu mulai membuka mulutnya lagi “….tentu saja aku dendam. Jika aku bertemu dengannya lagi, aku akan membunuhnya” ucap Snowy dengan nada datar dan dingin, Noir hanya diam saja, ini pertama kalinya dia melihat Snowy kelihatan menyeramkan seperti itu. “tapi aku pasti akan mati duluan dibunuhnya, aku kan tidak bisa bertarung” kata Snowy sambil tertawa hambar. “ah, benar juga, kau pasti akan mati konyol” gurau Noir, Snowy hanya tertawa mendengarnya.
Noir bangkit dari kursinya dan memandang keluar jendela, cerah. “sebenarnya aku kesini ingin mengajakmu keliling markas dan mengenalkan mu ke anggota kelompok lain. Bagaimana kalau kita keliling sejenak?” ajak Noir sambil mengedipkan sebelah matanya
“oh Noir…jangan mengedipkan mata mu kepada ku, kesannya kelihatan kau sedang menggodaku” Snowy menggelengkan kepalanya sambil tertawa, Noir hanya tertawa mendengarnya. “baiklah, lagian hari ini aku tidak sibuk” Snowy menganggukan kepalanya dan bangkit dari kursinya, dia mengambil foto adiknya dan memasukkannya kembali ke kantong bajunya. Mereka pun melangkah keluar kamar Snowy.
[Markas Heiliges Licht]
Sesampainya di Heiliges Licht, mereka disambut oleh Rose “Selamat pagi Snowy dan Noir” sapa nya dengan senyum memukau andalannya “Tumben kalian datang berdua” sambung Rose sambil melihat ke arah Snowy dan Noir bergantian “dan tumben kau bangun pagi sekali, Noir” sambung Rose. “ahaha Nona Rose jangan mengejek ku. Aku selalu bangun pagi hanya saja aku selalu malas untuk bangkit dari ranjang. Dan aku ingin mengajak Snowy keliling disini dan memperkenalkan dia kepada kelompok lain” jawab Noir. “oh” Rose hanya ber- oh ria. “baiklah, selamat menikmati kencan kalian berdua, aku punya beberapa urusan sedikit jadi tidak bisa menemani” kata Rose sambil tertawa dan pergi meninggalkan mereka berdua, Noir dan Snowy hanya sweatdrop.
Mereka pun mulai mengitari Heiliges, Noir mengenalkan Snowy ke semua orang yang ada di Heiliges, akhirnya setelah capek berputar – putar di Heiliges, mereka pun istirahat di taman dekat Heiliges. Noir memberikan makan siang Snowy –sebuah Hotdog dan Cola- Noir pun duduk dan mulai menyantap makan siangnya. “Terima kasih” kata Snowy, Noir hanya menganguk dan masih melahap makan siangnya serta meminum Cola nya. Snowy melihat Hotdognya dan mulai menyantapnya perlahan karena masih agak panas “um..Noir, kau dan Neige kan saudara, tapi aku tidak melihat kemiripan diantara kalian” Noir hanya diam dan masih menyantap makanannya, dia kelihatannya sangat lapar. Dia mengangkat sebelah tangannya yang menunjukkan agar Snowy menunggu sebentar, dia memasukkan semua Hotdognya –yang tinggal setengah- dan mengunyahnya dengan cepat lalu memukul – mukul dadanya pelan. Snowy hanya diam saja melihat tingkahnya “gak kusangka dia rakus” dia hanya melihat Noir yang meminum Cola nya dengan cepat. “fuh…akhirnya selesai juga” kata Noir sambil tersenyum “kau…tidak perlu buru – buru seperti itu”. “tidak apa – apa, aku tidak suka membuat lawan bicara ku menunggu, jadi apa yang kau Tanya kan tadi?” . “tentang kau dan Neige yang tidak mirip” Noir mengangguk – angguk “kau ingin tahu?” Snowy mengangguk sambil memakan Hotdognya. “itu sebenarnya…”
Belum sempat Noir menyelesaikan perkataannya, Neige sudah memotong terlebih dahulu “sedang apa kau disini?” Tanya Neige dari belakang Noir. Noir kaget mendengarnya dan langsung membalikkan badannya “oh Neige…tolong jangan membuatku kaget” kata Noir sambil mengelus – elus dadanya “kau bisa membuatku terkena sakit jantung” sambungnya. “kau sedang apa bermalas – malasan disini?” Tanya Neige tanpa mempedulikan perkataan Noir tadi. “makan siang” Jawab Noir singkat “kau sudah makan siang? Mau ku belikan?” tawarnya. Tanpa disadari perut Neige berbunyi pelan, Noir yang menyadari hal itu segera pergi ketempat penjual fastfood terdekat. Neige pun duduk di tempat Noir duduk tadi –didekat Snowy- dia hanya diam dan melihat ke arah lain, berusaha untuk tidak berpandangan dengan Snowy.
“kau tidak suka aku masuk ke Rotes Blut ya?” Tanya Snowy tiba – tiba memecahkan keheningan. Neige kaget mendengar kata – kata itu keluar dari mulut Snowy, mau tidak mau dia harus memandang kea rah Snowy. “kau …benci padaku?” Tanya Snowy “kenapa?” Tanya nya lagi. Neige hanya diam dan menundukkan kepalanya.
Neige masih menundukkan kepalanya, sedangkan Snowy menatapnya dengan sedih. Akhirnya Neige membuka mulutnya yang dari tadi tertutup rapat “aku….”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar