Senin, 20 September 2010

Heiliges Licht [my own story]

Aku hanya seorang pendosa….



Yang tidak pantas untuk hidup….



----------------------------------------------------------------------------



Chapter 1 : 'Snow'



“hah…hah…aku…tidak boleh mati…” kata seorang pemuda berambut merah crimson sambil terus berlari dan melihat ke arah belakangnya. Tanpa sadar pemuda itu menabrak pohon yang ada didepannya dengan keras, dia pun terduduk kesakitan. “sialan…” gumamnya sambil mengelus kepalanya. “wah...akhirnya buruan ku terkejar juga” ujar seorang wanita yang wajahnya tidak tampak karena tertutup oleh rambutnya “kau tidak bisa lari sekarang” sambungnya. Pemuda tersebut menoleh kebelakangnya, dia terlihat pasrah, wanita didepannya pun tersenyum lebar melihatnya dan mulai mengayunkan kapak nya. “tamat lah riwayatku” kata pemuda itu didalam hatinya sambil menutup matanya rapat – rapat.



Doorr!!



“Aku pasti sudah mati sekarang” kata pemuda berambut crimson sambil masih menutup matanya erat. “eh…tapi…” ujarnya lagi seakan sadar akan sesuatu. Dia mengangkat wajahnya dan mendapati seorang pria tersenyum ramah didepannya dan seorang wanita membelakangi pria tersebut. “kau tidak apa – apa?” ucap pria berambut abu - abu didepannya untuk memastikan bahwa dia tidak apa – apa. “eh..aku…aku baik – baik saja” jawabnya dengan wajah yang terlihat bingung. “baguslah” kata pria itu dengan nada yang kelihatan lega. Dia berdiri dan menyimpan pistol miliknya. Wajahnya terlihat serius kali ini, dia membalik badannya dan berbisik ke wanita yang kelihatannya seperti temannya.



Wanita itu melirik sekilas kebelakang dan mengangguk. Pria itu pun berbalik lagi ke arah pemuda crimson, pria itu tersenyum lagi “kau bisa berdiri? Sebaiknya kita pergi dari sini sekarang sebelum temannya datang” ucapnya sambil menunjuk kebelakang “ba-baiklah” ucap pemuda crimson itu lalu mereka pun pergi meninggalkan hutan itu.



[Markas Heiliges Licht - Perpustakaan]



“Kami pulang” ucap wanita yang sepertinya adalah partner si pria yang tadi menolong pemuda crimson. “akhirnya kalian pulang juga. Lama sekali. Siapa itu?” kata wanita manis yang kelihatannya sangat anggun, dia pun menghampiri si pemuda crimson. “a-aku Snowy, Snowy Himmel” ucap Snowy yang kelihatannya malu – malu. “Nama yang bagus” kata wanita itu “nama ku Rose Veilchen, panggil saja Rose” sambungnya sambil mengenggam tangan Snowy dan sambil tersenyum ke Snowy. “ma-manisnya…” ucap Snowy dalam hati dengan pipi memerah



“Mari ku kenalkan ke anggota kelompokku yang lain” kata Rose lagi dengan senyum yang dapat membuat pria mana saja meleleh, dia menarik tangan Snowy. “Nah, lelaki yang menolongmu tadi namanya Noir Stutzer” Noir yang duduk di atas rak buku menoleh ke arah Rose dan melambaikkan tangannya, Snowy hanya mengangguk – angguk. “Kalau yang itu…” kata Rose sambil menunjuk ke lantai dua perpustakaan, Snowy mengikuti arah tunjukkan Rose “Klar Zentrum” Klar yang sedang membaca buku hanya menoleh sekilas ke arah Snowy “dia kelihatan dingin..” ucap Snowy didalam hatinya. “Tenang saja, walaupun dia kelihatan dingin, sebenaranya dia orang yang paling baik kok di grup ini” kata Rose seolah bisa membaca pikiran Snowy. “Nah…kalau cewek manis yang disana adalah Neige Stutzer” Rose menunjuk ke arah wanita berambut hitam kecoklatan yang sedang duduk di dekat rak yang diduduki Noir. “eh? Neige Stutzer?” tanya Snowy “oh…dia “adik” Noir.” Kata Rose sambil berjalan ke arah meja Neige dan menarik tangan Snowy agar ia mengikuti Rose. Snowy pun mau tidak mau harus mengikuti Rose.



“Neige-chan” panggil Rose, Neige yang sedang asik membaca buku pun terpaksa mengalihkan perhatiannya dari buku ke Rose atau tidak dia bakal dihajar. “Ng?” jawab Neige malas, dia melihat kearah Rose dan Snowy. “kau..” kata Neige dengan suara pelan, dia kelihatan terkejut melihat Snowy. “eh?” Snowy bingung melihat Neige yang sepertinya sudah mengenalnya. “Dia manis, kan?” tanya Rose sambil tersenyum “eh?” kata Snowy lagi – lagi bingung “Neige, dia manis, kan?” ulang Rose. Snowy menatap mata Neige lekat – lekat “merah crimson….sepertinya familiar” ucap Snowy di hatinya. “hahaha…nona Rose mulai lagi menjodohkan Neige dengan lelaki lain. Itu sia sia saja nona, karena Neige hanya tertarik pada wanita” gurau Noir yang tiba – tiba saja sudah berdiri didepan Rose dan Snowy, membelakangi Neige.



Sebuah tendangan pun melayang ke kepala Noir “enak saja. Aku bukan Lesbi bodoh” kata Neige membantah perkataan Noir. “Aku kan Cuma bercanda….mencairkan suasana yang tegang ini” ucap Noir sambil mencibir “Bercanda apanya?! Kau selalu mengatakan kalau aku tertarik dengan wanita” ucap Neige kesal “Kalian berisik sekali!” sebuah pukulan keras melayang ke kepala Neige dan Noir. “kalian itu ‘saudara’ kan? Jangan bertengkar terus” ujar Klar yang entah sejak kapan sudah berada di dekat mereka “ ‘saudara’ itu seharusnya saling menghormati bukan begini, tiap hari kerjanya bertengkar terus………………” nasihat Klar panjang lebar, Noir dan Neige hanya diam tidak bisa melakukan apa – apa. Sedangkan Snowy dan Rose ber-sweatdrop ria melihat mereka bertiga.



3 jam kemudian……



Rose dan Snowy duduk sambil melihat Klar yang masih menceramahi Noir dan Neige. Snowy mengalihkan perhatiannya “apakah mereka selalu begitu?” Tanya nya ke Rose, Rose pun mengalihkan pandangannya ke Snowy “mereka bertiga?” Snowy hanya menganguk “ya begitu lah, Noir dan Neige selalu bertengkar walaupun mereka ‘saudara’ tapi Noir hanya bercanda kok” jawabnya sambil tertawa kecil “kalau Klar…dia juga selalu begitu, seperti seorang ibu – ibu” kekeh Rose, Snowy pun ikut tertawa mendengar nya. “um..apa maksudmu dengan ‘saudara’?” Tanya Snowy lagi, tapi kali ini Rose tidak menjawab pertanyaan Snowy, dia hanya tersenyum. Snowy pun makin bingung apa maksud Rose





“ah…sepertinya ceramah ibu kita sudah selesai” gurau Rose yang mengalihkan topic pembicaraannya dengan Snowy. Snowy mengikuti arah pandang Rose “Nona Rose, aku bukan ibu – ibu” bantah Klar yang berjalan mendekati Rose dan Snowy, diikuti oleh Neige dan Noir. “Tapi kau selalu bersikap seperti ibu – ibu” gurau Rose lagi, Klar hanya bisa menghela napas nya. Snowy pun berdiri dari kursinya “Namaku Snowy Himmel, salam kenal” ucapnya lalu membungkuk –cara memberi hormat orang jepang- ke Klar “tidak usah terlalu formal begitu, ku kenal kan lagi ini Nona Rose, Noir dan anggota kita yang paling muda, Neige” Klar mengenalkan teman – temannya lagi ke Snowy, Snowy melihat kea rah Neige lalu mendekatinya.



“Namamu Neige kan? Dalam bahasa Perancis itu artinya Salju loh, sama dengan nama ku, warna mata mu dan warna rambutku juga sama, kita punya banyak kesamaan, mudah – mudahan kita bisa berteman” ucap Snowy girang sambil tersenyum ceria lalu memberikan tangan nya ke Neige –mau berjabat tangan- tapi….”Jangan sok akrab denganku” kata Neige dingin. “Kau kira karena kita memiliki beberapa persamaan kita bisa akrab?” tambah Neige sambil menepis tangan Snowy. Rose, Klar dan Noir kaget melihat sikap Neige yang tidak biasa, ini pertama kalinya Neige bersikap seperti itu ke orang lain, Snowy pun kaget dengan sikap Neige, dia pun menarik uluran tangannya. “ma-maaf..” kata snowy lalu dia tersenyum lagi “aku kira kita bisa akrab karena punya kesamaan, ternyata tidak, bodohnya aku” kata Snowy lagi sambil tersenyum pahit.



Neige pun merasa bersalah sudah menepis tangan Snowy tiba – tiba “maaf….” Katanya sambil menundukkan kepalanya. “eh? Tidak apa – apa kok, aku juga salah karena tiba – tiba sok akrab begitu” celoteh Snowy sambil menggaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya Neige juga ingin akrab dengan Snowy…. Tapi dia takut…



Suasana perpustakaan pun jadi dingin, tidak ada satu pun yang membuka mulut untuk beberapa menit. “hei…kau mau bergabung dengan kami?” kata Noir tiba – tiba. “aku?” Tanya Snowy tidak yakin. “ya, kau. Siapa lagi orang baru yang ada disini?” ucap Noir sambil memutarkan kedua bola matanya. “ah..boleh juga idemu Noir, kita kan masih butuh anggota di kelompok kita” angguk Rose. “maaf, aku tidak mengerti dengan maksud kalian” ucap Snowy sambil menggelengkan kepalanya. “Jadi begini” kata Karl lalu menghidupkan rokoknya. “kami ini bekerja di Heiliges Licht, tempat orang – orang berkumpul untuk membasmi para Shinigami dan sejenisnya. Heiliges Licht punya banyak kelompok, tiap kelompok terdiri dari 6 orang. Kelompok kami membutuhkan 2 orang lain, bagaimana kalau kau ikut bergabung dengan kelompok kami? Kami akan sangat senang jika kau ikut bergabung” jelas Karl, Neige hanya berdiri membatu mendengar kata – kata temannya “oh tidak…” katanya didalam hati sambil menggelengkan kepalanya. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Snowy mengganguk dan menerima tawaran mereka “baiklah, kelihatannya menarik, aku ikut. Tapi aku tidak punya kemampuan bertarung” “tidak apa – apa, aku bisa mengajarimu beberapa teknik bertarung” kata Noir santai.



“Baiklah, selamat bergabung di Heiliges Licht, dikelompok Rotes Blut, Snowy” kata Rose sambil tersenyum manis dan mengulurkan tangannya ke Snowy, semua anggota kelompok ikut tersenyum, kecuali Neige…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar